Kamis, 15 Maret 2012

Pertarungan Abad 21 “Tourism War”

Sewaktu masih ada Uni Soviet, Amerika sempat sesumbar dengan program Star Wars-nya. Namun setelah Uni Soviet bubar, maka sempat terjadi Perang Teluk tahun 1991. Saat pak BJ Habibie sempat ditanya wartawan apakah yang sebenarnya terjadi di Teluk Persia itu? Saat itu pak Habibie yang masih menjadi Menristek RI menyatakan bahwa sebenarnya yang terjadi adalah perang memperebutkan resources yakni Energi!

Belakangan gencar negara-negara di dunia ini mengkampanyekan untuk beramai-ramai mengunjungi negaranya. Mulai dari negara tetangga Singapura, Malaysia, Australia, India bahkan Korea telah membuat road map industri parawisata mereka untuk mengantisipasi abad ke 21. Mengapa hal ini dianggap strategis? Jawaban sederhana adalah bahwa industri jasa (pariwisata) merupakan industri yang tahan banting alias tidak terpengaruh oleh gejolak inflasi. Bahkan demi meraup keuntungan negara jiran Malaysia tidak malu-malu mengklaim bahwa budaya yang mereka iklankan di media massa internasional merupakan budaya milik bangsa mereka sendiri. Padahal budaya tersebut milik bangsa Indonesia. Mulai dari tarian, batik, reog bahkan lagu ‘rasa sanyange’ mereka klaim sebagai milik bangsa Malaysia. Bahkan dalam filem Upin dan Ipin versi bahasa Inggris yang ditayangkan di Cartoon Netwxxx, ketika lagu ‘rasa sanyange’ dialunkan, teks bahasa Inggrisnya dihilangkan alias tidak ada. Namun ketika ada percakapan (bahasa Melayu), hal tersebut ada teks terjemahannya. Kita semua sudah tahu apa maksudnya bukan?

Untuk menuju Negara Pariwisata atau Tourism Country tidaklah mudah. Ambil contoh daerah wisata yang terkenal di Indonesia yakni pulau Bali. Kenapa Bali jadi primadona pariwisata Indonesia?  Setidaknya ada 3 (tiga) hal utama yang membuat Bali menjadi destinasi wisatawan domestik maupun manca negara. Pertama, faktor budaya dan masyarakatnya. Kedua, keindahan alam dan heritage. Ketiga, wisata belanja (kerajinan dan kuliner). Namun semua faktor di atas tidak akan berjalan dengan baik bila tidak didukung oleh infrastruktur yang memadai.

Secara garis besar industri pariwisata haruslah digagas dalam konteks negara, bukan dalam konteks ’apa adanya’ seperti sekarang ini. Bila Indonesia punya ikon Bali atau Jogyakarta, maka sebaiknya setiap kabupaten dan kota di Indonesia punya andalan wisata masing-masing. Untuk menuju ke masyarakat tourism minded dibutuhkan langkah-langkah strategis yakni dengan memperbaiki infrastruktur menuju ke lokasi atau daerah wisata tersebut. Masyarakat juga harus diberikan penyuluhan tentang pentingnya arti kehadiran wisnu atau wisman ke daerah mereka. Oleh sebab itu para pejabat daerah diwajibkan untuk ’belajar’ ke daerah wisata yang sudah mapan seperti Jogya atau Bali misalnya. Meskipun setiap daerah mempunyai karakter yang berbeda namun satu hal yang harus dicatat bahwa bangsa Indonesia yang katanya mempunyai budaya ’ramah’ tidak akan banyak membantu bila faktor keamanan dan infrastruktur tidak dibangun atau dijaga dengan baik.

Konsep Pariwisata Nasional haruslah ditata dengan sistematis. Kalau para koruptor saja bisa berpikir dan bertindak sistemik, semestinya para pejabat publik negeri ini harus lebih ’lihai’ dari para koruptor itu.Mulai hari ini marilah kita rame-rame mengunjungi daerah wisata di daerah kita masing-masing. Disamping agar lebih kenal daerah wisata negeri sendiri, juga dapat meningkatkan perekonomian daerah sekitarnya. Kalau bukan kita yang memulai, siapa lagi. Kalau tidak kita memulainya sekarang ini ; ”Apa Kata Dunia...?”

Banuayu, 15 Maret 2012